Waduk Ini Jadi Fokus Perhatian Penanganan, Ini Alasannya

TIMLO.ID – Hamparan tanah yang merekah tampak mendominasi sebagian area Waduk Delingan, Kecamatan Karanganyar, saat musim kemarau mulai berlangsung. Air yang biasanya menggenangi waduk bersejarah itu kini menyusut drastis, menyisakan cekungan-cekungan kering yang menjadi penanda menurunnya daya tampung waduk akibat sedimentasi yang terus terjadi selama bertahun-tahun.

Waduk Delingan yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda pada 1920–1923 dan mulai beroperasi penuh pada 1927 itu kini menghadapi persoalan serius. Pendangkalan akibat penumpukan lumpur membuat kapasitas tampungannya terus menurun. Saat ini, daya tampung waduk tercatat sekitar 3,14 juta meter kubik, sementara material sedimen baru terus masuk hingga puluhan ribu meter kubik setiap tahun.

Lurah Delingan Kasmanto mengatakan kondisi waduk saat musim kemarau panjang semakin memprihatinkan. Berkurangnya volume air membuat fungsi waduk sebagai penyedia air irigasi tidak dapat berjalan optimal. Pemerintah desa pun terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, termasuk mengusulkan pengangkatan sedimentasi yang menumpuk di dasar waduk.

“Sekarang saja air waduk sudah berkurang. Bahkan, sebagian besar tanahnya merekah atau retak-retak. Mboten ngertos airnya ke mana,” ujar Kasmanto.

Dampak kondisi tersebut langsung dirasakan petani. Pembagian air irigasi harus dilakukan secara bergilir dengan interval lebih panjang, yakni 3 hingga 4 hari sekali.

Jangkauan layanan irigasi juga menyusut dan hanya mampu melayani area persawahan yang berada di sekitar waduk. Untuk mempertahankan tanaman padi, banyak petani akhirnya beralih menggunakan pompa air dan sumur bor.

Menurut Kasmanto persoalan Waduk Delingan tidak hanya berkaitan dengan sedimentasi di badan waduk tapi juga kondisi daerah tangkapan air di bagian hulu. Alih fungsi lahan di kawasan sub daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo dinilai menjadi salah satu faktor yang mempercepat erosi dan meningkatkan laju sedimentasi.

Karena itu, upaya penghijauan kembali kawasan hulu dinilai menjadi langkah penting untuk memulihkan fungsi hidrologis wilayah tersebut. Penanaman pohon-pohon yang memiliki kemampuan menyimpan cadangan air seperti beringin, loh, dan preh, dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air.

Ketua DPRD Provinsi Jateng Sumanto, yang juga putra asli Karanganyar, mengajak masyarakat untuk mengembalikan fungsi daerah aliran sungai melalui gerakan penghijauan. Menurut dia alih fungsi lahan yang terjadi selama ini telah menyebabkan banyak mata air atau belik menghilang.

“Saya pesan kagem panjenengan semua, ayo hijaukan daerah aliran sungai. Kita kembalikan menjadi ijo royo-royo. Mungkin kita tidak bisa menikmatinya sekarang, tetapi nanti oleh anak putu,” katanya dihadapan petani dan Warga Delingan, Sabtu (20/6/2026).

Pada kesempatan itu, ia memberikan 100 bibit pohon untuk ditanam. Melalui gerakan ‘Jogo Kali Merawat Bumi,’ Sumanto juga membentuk sukarelawan untuk merawat daerah aliran sungai di daerah masing-masing.

Ajakan tersebut mendapat dukungan Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Karanganyar Latri Listyowati. Ia menilai Karanganyar memiliki tradisi sebagai daerah hijau dan perlu mengembalikan kawasan-kawasan di lereng Gunung Lawu sebagai penyangga lingkungan dan sumber air bagi masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *