Politik ‘Rusak Kabeh’? Sabar, Ngopi Dulu…
Oleh: Ketua DPW PKS Jateng, Hadi Santoso
TIMLO.ID – Semalam, suasana gang padat di Pedurungan sudah lumayan sepi. Berhubung nyonya rumah sedang merantau menuntaskan sekolahnya di UGM, suasana rumah jadi sedikit suwung. Jadilah saya mojok sendirian di teras, asyik menyeruput kopi sambil scroll layar hape. Ndilalah, grup WA teman sekolah yang biasanya cuma berisi jokes dan kata-kata mutiara khas bapak-bapak atau share link info , tiba-tiba meledak.
Ada satu kawan yang mendadak melempar statement begini: “Temen-temen, boleh jadi apa saja yang penting jangan jadi politisi ya, apapun alasannya rusak kabeh.” Mak deg. Jantung saya langsung nyess. Tumben-tumbenan grup ini membahas isu politik terkini dengan nada yang super serius dan kelam.
Biasanya obrolan malam cuma berkisar pada berita viral yang belum jelas juntrungannya. Anehnya, kawan yang memantik obrolan ini berstatus ASN dan suaminya itu kebetulan politisi gaek di Jawa Tengah. Lah, ini kan ibarat bakul sate tapi tiap hari rajin kampanye anti-daging kambing. Nggumun saya jadinya.
Batman dan Ruwetnya Mengurus Negara
Saya sih paham betul dari mana asal muasal keresahan kawan saya itu. Bisingnya media sosial dan sliwerannya isu politik terkini tentang manuver elite seputar kebijakan pemerintah belakangan ini memang sering bikin tensi naik. Masyarakat agaknya mulai lelah memilah mana fakta atau hoaks di tengah pusaran informasi yang serba instan ini.
Kalau meminjam dialog Harvey Dent di film The Dark Knight, rasanya pas banget menggambarkan sinisme masyarakat: “You either die a hero, or you live long enough to see yourself become the villain”. Kurang lebih maksudnya: “Kamu mati sebagai pahlawan, atau hidup cukup lama untuk melihat dirimu sendiri menjadi penjahat.”
Banyak orang telanjur yakin bahwa arena politik itu pasti akan menelan orang baik menjadi tokoh antagonis. Ketakutan inilah yang akhirnya bikin orang-orang waras memilih minggir teratur.
Tapi mari kita pakai logika warung kopi sebentar. Kalau semua orang baik pada emoh menyentuh politik, lalu siapa yang mau mengurus hajat hidup orang banyak? Masa iya kemudi negara ini mau kita pasrahkan seratus persen kepada wong-wong sing elek?
Sebagai orang yang juga ikut cawe-cawe di gelanggang politik dan ikut mengawal jalannya pemerintahan, saya merasa kabur dari gelanggang justru sebuah kemunduran fatal. Memberi sentilan dan kritik itu wajib, tapi ayo kita lakukan dengan cara elegan dan merangkul, bukan sekadar memaki keadaan.
Menanam Bibit di Tengah Kekacauan
Daripada terus-terusan merutuki sistem yang dianggap rusak kabeh, Islam sebenarnya punya cara pandang yang jauh lebih membumi dan optimis. Rasulullah SAW pernah memberikan satu ibrah yang luar biasa menohok buat kita yang gampang menyerah pada keadaan lingkungan.
Mari kita resapi hadits ini pelan-pelan:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika kiamat terjadi dan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit (pohon kurma), maka jika ia mampu janganlah kiamat terjadi sebelum ia menanamnya, maka tanamlah.” (HR. Ahmad).
Coba bayangkan, ini konteksnya kiamat lho! Dunia mau hancur lebur, langit mau runtuh, tapi Nabi malah menyuruh kita untuk tetap fokus menanam bibit pohon.
Pesannya sangat terang benderang. Sedahsyat apa pun kekacauan isu politik terkini, tugas kita bukanlah mengeluh atau bersikap apatis. Tugas kita adalah terus menanam kebaikan, menyumbang solusi, dan merawat kewarasan.
Pepatah Jawa bilang urip iku urup. Kita harus tetap menyala dan memberi manfaat meski sedang berada di tengah badai.
Filsafat Kangkung dan Resep Anti-Pusing
Ruwetnya obrolan grup WA semalam akhirnya mengingatkan saya pada rutinitas mengurus kebun urban di belakang rumah. Ngurus masyarakat itu kadang mirip banget sama merawat tanaman kangkung atau bayam. Kadang kita sudah capek-capek menyemai benih, eh paginya malah berantakan diganggu tikus atau kena jamur. Bikin gemes dan rasanya pengen mbanting pot.
Tapi kalau kita telaten menyiram dan merawatnya lagi, Insyaallah seminggu kemudian daunnya tumbuh hijau segar bikin adem mata. Mengawal hajat hidup masyarakat dan negara pun persis seperti itu; butuh stok kewarasan dan ketelatenan tingkat tinggi.
Jadi, buat teman-teman yang masih memelihara pesimisme akut pada isu politik terkini, mari kita turunkan tensi sebentar. Gusti Allah mboten sare, sing penting tetep obah (Allah tidak tidur, yang penting kita terus bergerak dan berusaha).
Tetaplah kritis pada jalannya negara. Tapi jangan sampai kehilangan harapan pada kebaikan sekecil apa pun.
Kopi semalam sudah habis. Saatnya kita kembali menanam “bibit” kebaikan hari ini!



