Candi Cetho: Jejak Arkeologis yang Menghubungkan Era Majapahit
TIMLO.ID – Candi Cetho, salah satu candi peninggalan Hindu yang terletak di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu kejayaan peradaban masa lalu.
Meskipun sering dikaitkan dengan era akhir Kerajaan Majapahit (abad ke-15), candi ini menyimpan arsitektur dan relief yang unik, menggambarkan perpaduan budaya Hindu-Jawa yang kental.
Berdasarkan penelitian arkeologis, Candi Cetho dibangun pada masa transisi Hindu-Buddha dan menjadi salah satu situs penting dalam pelestarian warisan Majapahit.
Struktur candi yang berundak dengan sembilan teras (petak) mencerminkan konsep kosmologi Hindu, sekaligus menunjukkan akulturasi budaya lokal.
Beberapa relief di dinding candi, seperti gambar wayang dan simbol-simbol kuno, diduga kuat memiliki kaitan dengan tradisi Majapahit.
Sejarawan setempat, Dr. Agung Prihantoro, menjelaskan bahwa Candi Cetho mungkin digunakan sebagai tempat pemujaan dan pertapaan pada masa keruntuhan Majapahit.
“Lokasinya yang terpencil di ketinggian 1.400 mdpl menunjukkan fungsi spiritual yang kuat. Banyak petilasan dan artefak di sini mirip dengan gaya Majapahit akhir,” ujarnya.
Selain nilai sejarah, Candi Cetho juga menjadi destinasi wisata religi dan budaya. Pengunjung dapat menikmati panorama alam sekaligus mempelajari jejak kejayaan Nusantara.
Pemerintah setempat terus berupaya melestarikan situs ini, termasuk dengan pemugaran terbatas agar tidak menghilangkan keasliannya.
Bagi para pecinta sejarah, napak tilas ke Candi Cetho tidak hanya sekadar wisata, tetapi juga menyusuri kembali warisan agung nenek moyang yang pernah berjaya di tanah Jawa.(*)



