Satya Wanaraksa 2025: Bentuk Penghormatan bagi Para Pelestari Kawasan Konservasi
TIMLO.ID – Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan secara resmi meluncurkan sekaligus menyosialisasikan Penghargaan Satya Wanaraksa 2025 pada 21 Mei 2025 di Jakarta.
Kegiatan ini digelar secara hybrid dan diikuti oleh jajaran pimpinan Ditjen KSDAE, para kepala UPT, pengelola taman hutan raya, mitra kerja, serta pegiat konservasi dari berbagai wilayah di Indonesia.
Direktur Jenderal KSDAE, Satyawan Pudyatmoko, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi kepada para pejuang konservasi di lapangan yang selama ini telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi.
“Kompleksitas dan dinamika tantangan kawasan menuntut pengelola dan petugas lapangan untuk terus berinovasi serta membuka diri (inklusif) atas berbagai peluang kerja sama demi mengatasi permasalahan di tingkat tapak,” ujar Satyawan.
Beliau juga menyoroti pentingnya dokumentasi dan publikasi atas praktik-praktik terbaik yang telah dijalankan oleh para petugas di lapangan.
Banyak pengalaman lapangan yang berhasil menyelesaikan konflik atau persoalan kawasan, namun belum terdokumentasi secara formal.
“Kesenjangan antara bukti kinerja nyata dan dokumentasi yang kurang memadai dapat menjadi tantangan, terutama dalam lingkungan kerja dewasa ini yang membutuhkan akuntabilitas formal dan proses validasi. Banyak ahli yang andal secara praktis tetapi kurang memiliki rekam jejak tertulis,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dirjen KSDAE juga mengungkapkan keberhasilan studi kasus konservasi di Taman Nasional Way Kambas yang menerapkan pendekatan pemolisian berorientasi masalah (Problem-Oriented Policing) dengan model SARA (Scanning–Analysis–Response–Assessment).
Studi ini berhasil meraih Herman Goldstein Award ke 32 Tahun 2024, sebuah penghargaan internasional bergengsi di bidang penyelesaian masalah keamanan.
Sebagai penutup, Dirjen KSDAE mengajak seluruh pejuang konservasi untuk mendokumentasikan hasil kerjanya dalam bentuk tulisan sebagai bentuk kontribusi kepada ilmu pengetahuan dan sejarah.
“Saya ingin mengutip sebuah ungkapan dari Pramoedya Ananta Toer, ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” tutupnya seraya meresmikan Penghargaan Satya Wanaraksa Tahun 2025.
Penghargaan Satya Wanaraksa diharapkan menjadi momentum penting dalam mendorong inovasi, kolaborasi, dan dokumentasi praktik-praktik terbaik perlindungan kawasan konservasi di Indonesia.***



