Politik Memberi dan Jalan Panjang Kemenangan
Oleh: Hadi Santoso
TIMLO.ID – Dalam setiap fase perjuangan, selalu ada pertanyaan mendasar, ‘Untuk apa kekuasaan itu diraih?” Adam Grant, melalui risetnya, mengingatkan bahwa manusia terbagi menjadi tiga watak: taker yang mengambil, matcher yang menukar, dan giver yang memberi. Politik hanya akan berumur panjang bila ditopang oleh watak yang terakhir.
Taker memandang politik sekedar sebagai sarana mengambil; mengambil suara, mengambil jabatan, dan mengambil kekuasaan. Mereka bisa kuat dalam waktu singkat, namun rapuh sehingga cepat pula runtuh. Dalam sudut kamus perjuangan, watak ini miskin keberkahan. Bagi mereka rakyat sekedar angka, kekuasaan sebagai tujuan dan relasi sekedar alat.
Matcher sangat transaksional. Ia bergerak dengan hitungan untung-rugi. Program ditukar suara, kerja ditukar dukungan. Banyak partai bertahan dengan cara ini. Sebagian politisi PKS pun pernah berada di titik ini.
Menganggap kerja politik hanyalah perebutan di last minut yang sangat transaksional. Oleh karenanya kehadiran PKS belum dirasakan hangat oleh masyarakat luas.
Adapun giver mereka bekerja dengan hati. Memberi sebelum diminta, melayani tanpa berharap balasan. Dalam riset Adam Grant, mereka tampak berisiko, bahkan bisa jatuh paling bawah. Namun ternyata justru merekalah yang paling sering mencapai puncak tertinggi, karena ditopang kepercayaan dan doa tulus dari banyak orang.
Dalam lintasan siroh, kita bisa belajar dari Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika seluruh hartanya disedekahkan untuk perjuangan, Rasulullah bertanya, “Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?” Ia menjawab, “Allah dan Rasul-Nya.” Itu bukan aksi untuk gagah-gagahan, melainkan keyakinan bahwa berkorban di jalan perjuangan tidak akan pernah sia-sia.
Bagi PKS, khususnya di Jawa Tengah yang masyarakatnya tenang dan setia pada keteladanan, jalan giver adalah jalan strategis. Hadir sebelum pemilu, bekerja tanpa berharap pujian, dan istiqamah berjuang tanpa mengeluh. Sesungguhnya, kemenangan sejati bukan sekadar duduk di kursi kekuasaan, melainkan mengakarnya dakwah di hati rakyat.
*Hadi Santoso adalah Ketua DPW PKS Jawa Tengah



