Sebanyak 213 mahasiswa Kampus SCU Semarang membantu penanganan RTHL di Kabupaten Demak.

Bantu Atasi Rumah Tak Layak Huni, 213 Mahasiswa SCU Diterjunkan di Demak

TIMLO.ID – Sebanyak 213 mahasiswa Soegijapranata Catholic University (SCU) dilepas untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di 7 desa di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak selama 20 hari, terhitung pada 4 hingga 23 Agustus 2025. Adapun ketujuh desa itu yakni Mrisen, Wonosalam, Pilangrejo,Kalianyar, Kuncir, Doreng, dan Botorejo.

Dalam KKN kali ini, SCU bekerja sama dengan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Pemprov Jateng. Mahasiswa diminta melakukan Verifikasi dan Validasi (VerVal) Lapangan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di sana.

“Ini adalah program kolaboratif antara mahasiswa dan mitra pemerintah. Di samping mereka tetap melaksanakan program kerja individu, kelompok, dan bersama dalam 1 desa yang fokus pada pemberdayaan masyarakat, sesuai dengan potensi dan isu strategis di masing-masing desa,” terang Kepala Pusat Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat (P3M) SCU Rudy Elyadi MM, Senin (4/8).

Rektor SCU Dr Ferdinandus Hindiarto mengatakan nantinya temuan itu akan diberikan dan ditindaklanjuti Disperakim Provinsi Jateng. Ia menambahkan bahwa pihaknya sudah lama menjalin kerja sama dengan instansi tersebut, dan ini kali kedua KKN dilaksanakan di tempat yang sama.

“Selain RTLH, KKN kali ini juga salah satunya fokus pada pengembangannya ekonomi kreatif, khususnya terkait UMKM yang telah lama menjadi perhatian kami,” tandasnya.

Bukan hanya itu, melainkan juga solusi yang digagas mahasiswa melalui program kerja yang dilaksanakan. Program kerja tersebut menurut keterangan Rudy meliputi pendidikan dan literasi masyarakat, kesehatan lingkungan dan kebersihan, ketahanan pangan dan lingkungan, serta inovasi berbasis potensi desa.

Sebelumnya, mahasiswa telah mengikuti Pembekalan Pra-KKN, mencakup gambaran daerah, termasuk aspek sosial dan budaya, kemampuan berkomunikasi, pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, serta teknis pelaksanaan program kerja.

“Mahasiswa juga telah melakukan observasi lapangan terlebih dahulu untuk mengenal langsung kondisi sosial masyarakat, potensi lokal, dan identifikasi permasalahan yang menjadi dasar penyusunan program kerja,” tambahnya.

Mengusung tema “Adaptasi – Inovasi dalam Pemberdayaan Masyarakat” Rudy menilai pentingnya KKN untuk melatih mahasiswa untuk beradaptasi dalam dinamika sosial di
masyarakat. Lebih dari itu, menurutnya, KKN juga mendorong mahasiswa agar bisa memanfaatkan keilmuannya untuk menciptakan inovasi guna menjawab kebutuhan masyarakat.

“Harapannya KKN menjadi media pembelajaran yang bermakna bagi mahasiswa untuk mengasah soft skill, empati sosial, dan inovasi lapangan,” tandasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *