UNDIP Perkuat Kolaborasi Riset Internasional di Amsterdam Dukung QS World University Rankings
TIMLO.ID – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus memperkuat langkah internasionalisasi dan jejaring akademik global. Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik UNDIP, Wijayanto, melakukan pertemuan dengan peneliti Kris Ruijgrok di Amsterdam, Belanda, pada 31 Agustus 2026 untuk membahas penguatan kolaborasi riset dan penulisan artikel ilmiah bersama.
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari strategi UNDIP untuk memperluas kemitraan dengan akademisi dan peneliti internasional sekaligus memperkuat sejumlah indikator penting dalam QS World University Rankings (QS WUR), khususnya Academic Reputation, Citations per Faculty, dan International Research Network (IRN).
Kolaborasi riset internasional menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan kualitas, visibilitas, dan dampak penelitian sekaligus memperluas jejaring akademik UNDIP di tingkat global. Pertemuan dan kerja sama dengan para peneliti internasional diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi kolaborasi substantif yang menghasilkan joint research dan joint publication.
Pertemuan di Amsterdam juga memiliki arti strategis karena berlangsung dalam lingkungan salah satu pusat akademik dan riset terkemuka di Eropa. University of Amsterdam (UvA) merupakan salah satu universitas riset terkemuka dunia. Dalam QS World University Rankings 2027, UvA menempati peringkat ke-60 dunia, sehingga penguatan jejaring dan kolaborasi dengan akademisi yang berada dalam lingkungan riset internasional Amsterdam menjadi bagian penting dari upaya UNDIP memperluas konektivitas akademiknya di tingkat global.
Kolaborasi yang Telah Menghasilkan Tiga Publikasi Internasional
Pertemuan antara Wijayanto dan Kris Ruijgrok bukan merupakan awal dari sebuah kerja sama baru. Kolaborasi akademik antara keduanya telah menghasilkan tiga publikasi internasional, yang menunjukkan keberlanjutan dan produktivitas jejaring riset internasional yang telah dibangun.
Publikasi pertama adalah artikel “The Infrastructure of Domestic Influence Operations: Cyber Troops and Public Opinion Manipulation Through Social Media in Indonesia”, yang diterbitkan pada 2024 dalam jurnal The International Journal of Press/Politics. Artikel ini mengkaji infrastruktur, jaringan, dan praktik pasukan siber dalam operasi pengaruh domestik serta manipulasi opini publik melalui media sosial di Indonesia.
Publikasi kedua adalah artikel “Towards the Comparative Study of Domestic Influence Operations: Cyber Troops and Elite Competition in Indonesia, the Philippines and Thailand”, yang diterbitkan secara daring pada 2025 dan masuk dalam volume jurnal tahun 2026 dalam jurnal Political Communication. Artikel ini dikembangkan melalui studi komparatif mengenai operasi pengaruh domestik, peran pasukan siber, dan dinamika kompetisi elite politik di Indonesia, Filipina, dan Thailand.
Sementara itu, hasil kolaborasi terbaru adalah artikel “Influence Operations 2.0: The Evolution of Social Media Manipulation in Southeast Asia”, yang diterbitkan pada 2026 dalam jurnal nformation, Communication & Society. Artikel ini mengembangkan pemahaman mengenai transformasi operasi pengaruh dan manipulasi media sosial di Asia Tenggara.
Ketiga publikasi tersebut memiliki arti strategis tidak hanya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam mendukung agenda internasionalisasi UNDIP. Dalam QS World University Rankings (QS WUR), publikasi bersama atau oint publication merupakan salah satu elemen penting dalam pengukuran International Research Network (IRN).
Pengukuran IRN tidak hanya melihat adanya kolaborasi internasional, tetapi juga menilai keberlanjutan dan kekuatan jejaring penelitian yang dibangun. Salah satu konsep penting dalam indikator ini adalah sustained research partnerships, yaitu kemitraan riset internasional yang berlangsung secara berkelanjutan dan menghasilkan output penelitian bersama.
Dalam metodologinya, salah satu ukuran penting adalah kemitraan riset yang menghasilkan minimal tiga publikasi bersama dalam periode lima tahun terakhir. Dengan demikian, tiga publikasi internasional bersama yang dihasilkan Wijayanto dan Kris Ruijgrok dalam periode 2024–2026 menunjukkan terbentuknya pola sustained research partnerships yang relevan dengan penguatan indikator International Research Network (IRN) dalam QS WUR.
Rekam jejak tersebut memperlihatkan bahwa jejaring akademik yang dibangun tidak berhenti pada pertemuan, diskusi, atau kerja sama formal, tetapi berkembang menjadi joint research dan joint publication yang menghasilkan output akademik nyata dan berkelanjutan.
Agenda Riset Baru
Dalam pertemuan pada 31 Agustus 2026, Wijayanto dan Kris Ruijgrok membahas langkah untuk melanjutkan dan memperluas kolaborasi melalui sejumlah agenda riset baru.
Salah satu agenda utama yang dibahas adalah pengembangan penelitian mengenai peran pasukan siber (cyber troops) dan operasi pengaruh digital dalam memperlemah kelompok oposisi politik. Penelitian ini akan mengkaji bagaimana aktor-aktor politik memanfaatkan teknologi digital, media sosial, dan jaringan komunikasi daring untuk membentuk opini publik, membangun narasi politik, serta melemahkan kelompok atau aktor yang berada di luar lingkaran kekuasaan.
Selain itu, kedua peneliti juga mendiskusikan agenda riset mengenai represi digital terhadap masyarakat sipil. Penelitian tersebut akan mengeksplorasi berbagai bentuk tekanan terhadap organisasi masyarakat sipil dan kelompok-kelompok kritis di ruang digital, termasuk manipulasi informasi, serangan digital, intimidasi, pengawasan, serta berbagai bentuk pembatasan terhadap kebebasan sipil.
Kedua agenda tersebut akan dikembangkan melalui kolaborasi riset dan penulisan bersama. Langkah ini diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi internasional bereputasi, tetapi juga memperluas jejaring kolaborasi penelitian dan meningkatkan dampak akademik melalui visibilitas serta sitasi publikasi.
Menurut Wijayanto, penguatan kolaborasi internasional harus menjadi bagian penting dari strategi universitas untuk meningkatkan kualitas riset dan reputasi akademik di tingkat global.
“Kolaborasi internasional bukan sekadar pertemuan atau kerja sama formal. Yang paling penting adalah bagaimana jejaring tersebut menghasilkan riset bersama, publikasi bersama, dan dampak akademik yang nyata. Melalui kerja sama yang berkelanjutan, kita dapat memperluas international research network, meningkatkan visibilitas publikasi, memperkuat sitasi, dan pada akhirnya juga membangun academic reputation UNDIP di tingkat internasional.”
Ia menambahkan bahwa persoalan seperti operasi pengaruh digital, pasukan siber, dan represi digital membutuhkan perspektif lintas negara dan lintas disiplin.
“Persoalan-persoalan tersebut tidak dapat dipahami hanya dari perspektif satu negara. Kita membutuhkan dialog dan kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara untuk memahami bagaimana fenomena tersebut berkembang dalam konteks yang berbeda dan untuk memperkaya kontribusi Indonesia dalam perdebatan akademik global.”
Mendukung Strategi Internasionalisasi dan QS WUR UNDIP
Bagi UNDIP, penguatan jejaring internasional melalui kolaborasi yang menghasilkan joint research dan joint publication merupakan langkah strategis untuk mendukung peningkatan sejumlah indikator dalam QS World University Rankings.
Kolaborasi yang berkelanjutan seperti ini berpotensi memperkuat International Research Network, meningkatkan visibilitas publikasi, memperluas peluang sitasi, serta mendukung penguatan Academic Reputation dan posisi UNDIP dalam pemeringkatan internasional.
Lebih dari sekadar membangun jejaring, kolaborasi dengan Kris Ruijgrok menunjukkan pentingnya memastikan bahwa kerja sama internasional menghasilkan output yang terukur dan berkelanjutan. Tiga publikasi internasional bersama dalam periode 2024–2026 menjadi fondasi untuk melanjutkan kerja sama riset, memperluas jaringan kolaborasi, dan mengembangkan publikasi-publikasi berikutnya.
Pertemuan di Amsterdam pada 31 Agustus 2026 menjadi momentum untuk melanjutkan sustained research partnerships tersebut melalui pengembangan agenda penelitian dan penulisan bersama mengenai pasukan siber, operasi pengaruh digital, pelemahan oposisi politik, serta represi digital terhadap masyarakat sipil.
Melalui berbagai aktivitas internasional yang terarah dan berkelanjutan, UNDIP terus berupaya membangun kemitraan substantif dengan akademisi dan peneliti dunia. Strategi tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi UNDIP dalam jejaring akademik internasional, meningkatkan reputasi akademik, memperluas dampak publikasi dan sitasi, serta mendukung pencapaian target UNDIP sebagai universitas bereputasi dunia.
Pertemuan di Amsterdam ini menjadi salah satu langkah konkret dalam memperkuat diplomasi akademik UNDIP melalui kolaborasi internasional yang berbasis pada hasil, keberlanjutan, dan dampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan reputasi universitas.



