Terima Anugerah Tokoh Pamomong Jawa Tengah 2025, Gus Yusuf: Jadi Spirit Membangun Wilayah

TIMLO.ID – KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf menerima penghargaan sebagai Tokoh Sang Pamomong Jawa Tengah Tahun 2025 dari media Suara Merdeka. Penghargaan ini menjadi spirit untuk terus berkarya guna membangun Jawa Tengah kedepannya.

Ia menerima anugerah itu bersama dengan sejumlah tokoh nasional seperti Budayawan Gus Mus, Menteri Perdagangan Budi Santoso, Menteri Dikdasmen Abdul Mu’ti.

Nama Gus Yusuf tak asing di telinga masyarakat Jawa Tengah. Selain mengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang, Gus Yusuf juga merupakan Ketua DPW PKB Jawa Tengah.

Perannya mencerdaskan kehidupan umat dan dilakukan terus menerus menjadi faktor utama penghargaan itu disematkan pada Kiai kelahiran 9 Juli 1973 tersebut. Pesantren yang ia pimpin telah mencetak banyak generasi penerus bangsa yang berakhlak dan paham ilmu agama.

Dirinya pun menjadikan penghargaan yang ia terima ini sebagai cambuk untuk terus berbuat yang terbaik bagi agama dan bangsa. “Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami dan tokoh lain. Semoga selalu bersama-sama terus membangun Jawa Tengah yang lebih baik lagi kedepannya,” kata Gus Yusuf usai penyerahan anugerah di Gedung Gradhika Bhakti Praja Kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat 25 Juli 2025.

Tak lupa, Gus Yusuf juga mengucapkan ulang tahun pada media Suara Merdeka yang kini sudah berusia 75 tahun. Ia menilai perjuangan yang dilakukan Suara Merdeka sangat dahsyat di tengah gempuran media sosial dan media online. Ia juga mendoakan kedepannya semakin sukses dan di hati masyarakat.

Perlu diketahui, melihat Gus Yusuf seperti melihat wajah publik pesantren. Keseharian ia bertindak sebagai juru bicara, pelayan umat, dan penghubung antara pesantren dan masyarakat umum serta pemerintah membuat namanya melekat di hati masyarakat.

Sejak kecil, Gus Yusuf telah terbiasa hidup dalam atmosfer pesantren dan mengenal kitab
kuning sebelum mengenal dunia luar. Dia mengenyam ilmu di Pondok Pesantren
Lirboyo hingga 1994. Kemudian memperdalam ilmu agama ke Pesantren Salafiyah Kedung
Banteng, Purwokerto dan Pesantren Salafiyah Bulus Kebumen.

Dalam berdakwah, Gus Yusuf tidak hanya melalui podium masjid atau pengajian formal.
Namun ia hadir langsung di tengah masyarakat dengan cara ‘’kultural’’. Lewat pengajian rutin di pondok pesantre n maupun undangan pengajian alumni dan wali murid.

Dirinya dikenal bukan sebagai ustaz selebriti, melainkan kiai ndesa yang setia melanggani ke dusun-dusun. “Maka gaya saya ya gaya desa. Karena memang saya Kiai Ndesa gitu loh. Saya nggak bisa dibentuk model kiai entertainment itu, nggak bisa,” ungkapnya.

Gaya ini pula yang membuka undangan ke Jambi, Riau, hingga ke Hong Kong untuk menyapa pekerja migran Indonesia. Baginya, dakwah tak sekadar ceramah.

Selain berkiprah di dunia pesantren, kiprah Gus Yusuf di dunia politik dimulai saat ia ikut dengan mahasiswa berdemo dalam reformasi  1998. Setelah reformasi, Gus Yusuf merambah politik lewat Partai  Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia mulai sebagai Ketua PAC Tegalrejo  (1998), lalu Ketua DPC Kabupaten Magelang (1999–2007), hingga  akhirnya Ketua DPW PKB Jawa Tengah (2013–sekarang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *