Ini Dia! Prospek Bawang Merah Berteknologi Pembenihan Biji Botani 

TIMLO.ID – Pengembangan bawang merah sebagai urban farming memiliki prospek yang sangat cerah. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi, mudah disimpan dan didukung inovasi modern seperti teknologi smart farming (IoT) dan pembenihan biji botani (TSS) yang membuatnya jauh lebih efisien di lahan sempit.

Beberapa peluang dan keunggulan bawang merah, antara lain nilai ekonomi stabil, dimana bawang merah merupakan kebutuhan pokok harian yang memiliki permintaan pasar tinggi dan tren harga yang kompetitif. Hasil panen bawang merah dapat disimpan dan dijual saat harga terbaik di pasaran, tidak seperti cabai yang harus segera dijual. Secara agroklimat (suhu dan kelembapan), banyak daerah perkotaan (seperti Jakarta dan Semarang) sangat mendukung pertumbuhan bawang merah dataran rendah.

Melihat potensi dan prospek bawang merah kedepan, Kelompok Wanita Tani (KWT) Soka Makmur di Kelurahan Sukorejo dengan didampingi oleh Haris Cahyo Swasono, penyuluh Kementerian Pertanian di Kota Semarang. mencoba membuat demplot bawang merah dengan teknologi TSS (True Shallot Seed) Cap Warna Merah varietas Sanren F1 dengan menggunakan polyback ukuran 25 sebanyak 37 polybag selama 2,5 bulan dapat panen sebanyak 2,7 kg basah.

Menurut Haris Penggunaan benih botani (TSS) menggantikan umbi membuat distribusi benih lebih mudah, tanaman lebih tahan penyakit dan mampu melonjakan produktivitas. Tanaman bamer (bawang merah) sangat cocok dikembangkan ibu-ibu di perkotaan dengan system polyback sederhana, bisa ditempatkan dimana saja, yang penting harus di tempat yang panas. Dan hasilnya ibu-ibu tidak perlu membeli bawang merah untuk keperluan sehari-hari. Juga hal tersebut selaras dengan kebijakan Ibu Walikota berkaitan urban farming dalam mendukung ketahanan pangan

Bagi petani kecil, inoasi TSS berdampak besar bagi kesejahteraan keluarga karena penggunaan TSS dapat meningkatkan keuntungan petani terutama karena biaya pembelian umbi bibit yang relative mahal dapat ditekan.

Kesehatan benih TSS terjamin diproduksi melalui proses yang higienies sehingga menghasilkan tanaman yang lebih sehat dan terbebas dari patagen tular benih, sedangkan umbi konvensional sering kali membawa residu jamur, bakteri atau virus dari pertanamana sebelumnya. Produktivitas hasil panen jika menggunakan TSS bisa mencapai 26 ton per hektar.

Memang dengan TSS petani membutuhkan waktu untuk penyemaian benih terlebih dahulu (seperti menyemai Lombok, tomat, dll) sebelum dipindahkan ke lahan/ polyback. Berbeda dengan umbi, dimana petani langsung menanam umbi di lahan. Namun harga bibit relative murah dibanding dengan harga umbi. Demikian penjelasan tambahan dari Haris.

Dengan keberhasilan demplot tersebut perlu dikembangkan dalam sekala yang lebih luas, Kebetulan KWT Soka Makmur menerima bantuan program Perdu Semerbak (program Perkampungan Pertanian Terpadu Semarang Seribu Polybag, Ayam, dan Kelinci) dari Kota Semarang berupa bibit umbi bawang merah, 1500 polybag, media tanah, pupuk, dan obat-obatan bantuan tanaman lombok dan tomat serta ayam. Sehingga penting untuk mendesiminasi hasil dari penanaman pertanian termasuk bawang merah dan peternakan ayam tersebut.

Menurut Ketua KWT Soka Makmur Ibu Hesti Nurwantoro saat ini ibu-ibu dari KWT Soka Makmur Kelurahan Sukorejo sedang melaksanakan penanaman bawang merah dengan system konvennsional umbi yang merupakan bantuan dari Dinas Pertanian Kota Semarang Namun belajar dari demplot yang sudah dilaksanakn tersebut maka saat ini juga menanam bawang merah dengan teknologi TSS secara mandiri dalam jumlah polyback yang lebih banyak kurang lebih 340 buah untuk kesejahteraan Masyarakat.
Kegiatan tersebut juga didukung oleh Lurah Sukorejo, Dhimas Enggar Divantoro yang dalam acara pelatihan dan penerimaan kunjungan tamu Alfamart beberapa waktu yang lalu menyatakan bahwa bawang merah akan memberikan kesejahteraan Masyarakat setempat apabila ibu-ibu sebagai pelaku KWT aktif untuk bergerak, dan peran pendamping di lapangan (PPL) akan sangat diperlukan untuk memberikan pembelajaran dan edukasi.

Untuk menanam bawang merah ternyata tidak perlu lahan, cukup dengan polyback kecil yang ditempatkan di halaman sempit atau pinggiran tembok yang penting panas terik. Dan itu cocok untuk perkotaan di Semarang yang sudah tidak tersedia lahan untuk menanam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *