Awas! Sering Gunakan Earphone? Ini Akibat yang Bisa Dialami Telinga Jangka Panjang
TIMLO.ID – Hati-hati bagi siapa saja yang sering menggunakan earphone. Dalam jangka panjang, penggunaan earphone bisa merugikan kesehatan telinga. Suara itu bisa menimbulkan kebisingan.
Suara berlebih dalam durasi panjang perangkat audio seperti earphone dan True Wireless Stereo (TWS) dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen, meskipun gejalanya baru muncul setelah 10-15 tahun.
Dokter Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS), Dokter Spesialis THT-KL RS UNS, Rini Kartika Dewi, dr., Sp.THT-KL meminta masyarakat mengikuti Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Kebisingan.
Untuk melindungi pendengaran, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti earbuds yang dapat meredam suara hingga 20-30 desibel atau earmuff dengan peredaman 40-60 desibel sangat dianjurkan.
Oleh karena itu, ia merekomendasikan metode 60-60, yakni penggunaan perangkat audio maksimal 60 menit per hari dengan volume tidak lebih dari 60% dari kapasitas maksimal.
“Getaran yang berlebih, keras, dan lama durasinya itu merusak rambut-rambut di dalam rumah siput. Desibel yang semakin tinggi dan berlangsung bertahun-tahun itu juga merusak sinaps pada saraf pendengaran. Ini sifatnya permanen,” jelas dokter Rini sebagaimana dikutip dari laman UNS.
Dirinya menjelaskan terdapat dua faktor utama penyebab gangguan pendengaran akibat bising, yaitu internal dan eksternal.
Faktor internal meliputi riwayat penyakit seperti hipertensi dan diabetes melitus yang dapat mempengaruhi kondisi pembuluh darah di telinga. Selain itu, pengobatan tertentu yang bersifat ototoksik juga berpotensi merusak pendengaran secara permanen.
Dari segi anatomi, panjang liang telinga seseorang turut berpengaruh dalam menerima paparan bising. Sementara itu, faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan, seperti pekerja pabrik, bengkel, konstruksi, hingga pemusik yang terpapar bising dalam jangka waktu lama.
Gangguan pendengaran akibat bising bersifat sensori neural, yakni kerusakan yang terjadi pada saraf pendengaran. Salah satu gejala awalnya adalah tinnitus atau telinga berdenging.
Beberapa penderita gangguan pendengaran juga mengalami gangguan keseimbangan, seperti sensasi pusing berputar saat bangun dari posisi duduk. Dokter Rini menegaskan pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan audiometri dan segera berkonsultasi jika mengalami gejala-gejala tersebut.
“Telinga berdenging menjadi lampu kuning yang kerap muncul sebelum terjadi gangguan pendengaran permanen,” jelas dokter Rini.
Untuk itu, penyuluhan dan skrining pendengaran secara rutin juga menjadi langkah penting dalam pencegahan. Pekerja dengan paparan bising dianjurkan menjalani pemeriksaan Audiometri dan Otoacoustic Emissions (OAE). Setidaknya pemeriksaan tersebut dilakukan satu tahun sekali untuk mendeteksi penurunan ambang dengar lebih dini.
“Pada pekerja yang terpapar bising, pemeriksaan audiometri dan OAE sangat penting untuk mengetahui kondisi rumah siput dan mendeteksi gangguan sejak dini,” tambah dokter Rini.
Sedangkan bagi masyarakat yang gemar menghadiri konser musik, dokter Rini menyarankan penggunaan earmuff untuk perlindungan optimal. Hal ini karena intensitas kebisingan konser musik dapat mencapai 120-130 desibel.
“Menggunakan earmuff jauh lebih baik dibandingkan earbuds, karena daya redamnya lebih tinggi,” jelasnya.
Bagi mereka yang telah mengalami gangguan pendengaran berat akibat bising, terdapat tiga metode terapi yang dapat dilakukan, yakni psikoterapi, penggunaan alat bantu dengar, dan terapi wicara. Psikoterapi bertujuan memberikan penguatan mental. Sementara alat bantu dengar berfungsi untuk mencegah sejumlah dampak fisik seperti kesulitan mendengar dan dampak sosial seperti stres dan isolasi diri.
“Dengan deteksi dini, pencegahan, dan penanganan yang tepat, kita dapat menjaga kesehatan pendengaran agar tetap optimal dalam menjalani aktivitas sehari-hari,” tutup dokter Rini. **



