Dok. Visit Jawa Tengah

Festival Thong-Thong Lek Rembang, Tradisi Unik Penggugah Sahur Yang Penuh Kreativitas

TIMLO.ID – Rasakan Ramadan dengan semarak budaya, hanya di Rembang! Thong-thong Lek, sebuah tradisi unik yang terus hidup dan menggema di tengah Masyarakat pesisir Jawa. Kesenian ini bukan sekedar pertunjukan musik, melainkan bagian dari identitas budaya yang kuat dalam kehidupan warga setempat.

Thong-thong lek berawal dari kebiasaan masyarakat yang membangunkan sahur saat bulan Ramadan. Dahulu, warga menggunakan alat sederhana seperti kentongan bambu, galon bekas, atau peralatan lainnya yang berbunyi khas “thong-thong”.

Tradisi membangunkan sahur berkembang menjadi pertunjukan musik tradisional yang lebih teroganisir dan berkembang. Irama yang awalnya sederhana dikreasikan menjadi dinamis dan penuh semangat.

Kini, thong-thong lek berkembang menjadi Festival Budaya yang tidak dimainkan saat Ramadan tetapi juga diperlombakan dalam event tahunan Pemerintah Daerah di Jawa Tengah khususnya di wilayah Kabupaten Rembang, menjadikan tradisi ini sebagai agenda budaya untuk menarik wisatawan sekaligus melestarikan kearifan lokal.

Dalam festival tersebut setiap kelompok biasanya menampilkan aransemen musik yang kreatif, koreografi, hiasan diatas kendaraan dorong dan juga di padupadankan dengan kostum yang unik dan penuh warna. Semangat kompetisi ini membuat para pemuda dan pemudi berlomba-lomba menghadirkan konsep yang terbaik, tanpa meninggalkan unsur tradisionalonya.

Thong-thong lek bukan hanya soal musik. Tradisi ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga. Persiapan yang dibuat secara matang dan penuh konsep ini dilakukan bersama-sama, mulai dari merancang alat musik, membuat kostum hingga menyusun aransemen.

Selain itu, tradisi ini juga menjadi wadah kreativitas generasi muda agar tetap mencintai budaya daerah di tengah arus modernisasi. Ciri khas yang membedakan Thong-Thong lek Kabupaten Rembang dengan daerah lain yaitu, didominasi dengan alat perkusi yang sederhana kemudian dinikuti dengan irama yang cepat dan penuh hentakan, nuansa religious dan penuh semangat kebersamaan dan juga tidak lupa dengan unsur humor dalam penampilan.

Thong-thong lek adalah bukti bahwa tradisi lokal dapat terus hidup dengan sentuhan kreativitas tanpa kehilangan jati dirinya. Di tengah perkembangan zaman, gema bunyi “thong-thong” di Rembang tetap menjadi symbol kebersamaan, semangat muda, dan juga kecintaan terhadap budaya warisan leluhur.

Jangan lupa saksikan kemeriahan Festival Thong-thong Lek tahun 2026 pada tanggal 17 Maret 2026 mulai pukul 20.00 WIB  dengan start di Perempatan Zaeni dan finish di Gedung Haji. Mari jadi bagian dari kemeriahan budaya khas Rembang yang selalu dinanti setiap tahunnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *