Garuda Academy dalam Membentuk Masa Depan Industri Sepak Bola Indonesia

TIMLO.ID – Program pengembangan manajemen sepak bola Garuda Academy yang diinisiasi PSSI melalui PT Garuda Sepak Bola Indonesia (GSI) dinilai menjadi fondasi penting bagi penguatan tata kelola dan profesionalisme industri sepak bola Indonesia.

Penilaian tersebut disampaikan dua pemateri dari Asian Football Confederation (AFC), Lazarus J. Xavier dan Yazeen Buhari, yang terlibat langsung sejak tahap awal pelaksanaan program.

Garuda Academy merupakan program berjenjang yang berlangsung hampir satu tahun, dimulai dari CORE 1.0 pada Mei 2025 hingga CORE 4.0 yang resmi dibuka pada 26 Januari 2026.

Dari lebih dari 100 peserta awal, program ini menyisakan 10 peserta terbaik yang melanjutkan ke tahap akhir. Pada CORE 4.0, kurikulum program difokuskan pada tiga pilar utama pengelolaan sepak bola modern, yakni manajemen strategis, manajemen keuangan, dan tata kelola sepak bola.

Lazarus J. Xavier, Head of Strategic Planning & Advisory AFC, menilai bahwa kondisi tata kelola dan manajemen sepak bola di Asia Tenggara saat ini menunjukkan arah perkembangan yang positif.

Ia menyebut bahwa tata kelola merupakan aspek yang terus berkembang seiring dengan meningkatnya tuntutan profesionalisme dalam industri sepak bola.

“Saat ini terdapat perkembangan yang menjanjikan dalam hal tata kelola dan manajemen sepak bola di Asia Tenggara,” ujar Lazarus.

“Tata kelola sepak bola adalah sesuatu yang terus berkembang, dan AFC serta FIFA secara konsisten memberikan dukungan untuk memperkuat struktur tata kelola dan mendorong penerapan praktik terbaik,” tambahnya.

Dalam konteks Indonesia, Lazarus melihat Garuda Academy sebagai bentuk transformasi penting dalam pendekatan pembangunan sepak bola nasional. Menurutnya, program ini menandai perubahan fokus dari sekadar mengandalkan talenta di lapangan menuju pembangunan infrastruktur administrasi yang profesional dan berkelanjutan.

“Garuda Academy merepresentasikan sebuah pergeseran fundamental dalam sepak bola Indonesia, dari yang sebelumnya hanya mengandalkan talenta di lapangan, menuju pembangunan infrastruktur administrasi yang profesional dan berkelas dunia,” kata Lazarus.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *