Dari Air Laut Menjadi Harapan: Teknologi Desalinasi UNDIP Mendorong Kemandirian Nusakambangan
TIMLO.ID – Pulau Nusakambangan selama puluhan tahun dikenal sebagai “Alcatraz-nya Indonesia”. Nama pulau di selatan Cilacap itu lebih sering dikaitkan dengan lembaga pemasyarakatan berkeamanan tinggi daripada kisah inovasi. Namun di balik citra tersebut, Nusakambangan menyimpan persoalan yang jauh lebih mendasar: air.
Di pulau yang sebagian besar wilayahnya tersusun atas batuan kapur itu, memperoleh air berkualitas baik bukan perkara mudah. Air tawar tersedia, tetapi kandungan kapurnya relatif tinggi sehingga tidak ideal sebagai sumber air minum. Kebutuhan air konsumsi bagi warga binaan dan petugas selama ini harus dipenuhi dari luar pulau.
“Selama ini ketersediaan air bersih dan air minum di Nusakambangan masih menjadi tantangan karena kondisi geografis pulau yang memiliki keterbatasan sumber air tawar yang baik. Air tawar di Nusakambangan memiliki kandungan kapur yang sangat tinggi,” kata Koordinator Wilayah UPT Pemasyarakatan Nusakambangan dan Cilacap sekaligus Kepala Lapas Kelas I Batu Nusakambangan, Dr. Irfan, A.Md.IP., S.H., M.H.
Ketergantungan terhadap pasokan air dari luar pulau tidak hanya mahal, tetapi juga rentan terhadap gangguan cuaca dan transportasi penyeberangan. Sebelum hadirnya teknologi desalinasi, kebutuhan air minum harus didatangkan secara berkala dari luar Nusakambangan.
Menuju Nusakambangan yang Produktif
Di tengah keterbatasan tersebut, Nusakambangan kini tengah bertransformasi menjadi kawasan ketahanan pangan. Sekitar 135 hektare lahan yang sebelumnya tidak produktif diubah menjadi area pertanian, peternakan, perikanan, dan berbagai kegiatan produktif lain yang dikelola oleh warga binaan. Melalui program ini, ratusan warga binaan tidak hanya terlibat dalam mendukung ketahanan pangan, tetapi juga memperoleh keterampilan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat.
Dalam ekosistem baru itulah teknologi desalinasi karya Universitas Diponegoro (UNDIP) hadir. Instalasi pengolahan air laut menjadi air minum tersebut tidak hanya menopang kebutuhan dasar kawasan, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi Nusakambangan menuju kawasan yang lebih mandiri dan produktif.
Ide menghadirkan mesin desalinasi di Nusakambangan bermula dari pertemuan antara kebutuhan nyata di lapangan dan pengalaman panjang Universitas Diponegoro (UNDIP) dalam pengembangan teknologi pengolahan air laut.
Prof. Dr. I Nyoman Widiasa, S.T., M.T., penggagas teknologi tersebut, mengatakan ketertarikan pemerintah terhadap teknologi desalinasi UNDIP bermula saat Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto meresmikan Campus Immigration Point di UNDIP pada 1 Desember 2025. Dalam kesempatan tersebut, Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., memaparkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan kampus, termasuk teknologi desalinasi yang mampu mengubah air laut menjadi air tawar bahkan air siap minum. Paparan tersebut kemudian menarik perhatian Menteri Agus yang melihat potensi penerapannya untuk menjawab kebutuhan air minum di Nusakambangan.
“Pada saat itu Pak Menteri hadir dan UNDIP menyampaikan selama ini sudah banyak melakukan kegiatan tentang desalinasi, mengubah air asin menjadi air tawar dan bahkan air yang siap minum. Itu yang membuat Pak Menteri tertarik, khususnya untuk diterapkan di Lapas Nusakambangan yang posisinya berada di pinggir laut,” ujar Prof. Nyoman.
Ketertarikan tersebut kemudian diwujudkan melalui kerja sama antara Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan melalui Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Tengah dengan UNDIP untuk menghadirkan teknologi desalinasi di Lapas Kelas I Batu Nusakambangan. Kerja sama tersebut ditandatangani pada April 2026, dirancang untuk menjawab persoalan klasik Nusakambangan: keterbatasan pasokan air minum di pulau yang dikelilingi laut. Di saat yang sama, kedua pihak juga membuka peluang pemanfaatan konsentrat hasil desalinasi sebagai bahan baku produksi garam di masa depan.
Saat melakukan kunjungan kerja ke Nusakambangan pada 20 Juni 2026, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto, meninjau langsung instalasi desalinasi yang berdiri di kawasan Lapas Kelas I Batu Nusakambangan. Instalasi tersebut berada di tepi pantai dan bersebelahan dengan kolam budidaya sidat yang menjadi bagian dari pengembangan kawasan ketahanan pangan Nusakambangan.
Peresmian operasional instalasi ditandai dengan prosesi pemecahan kendi sebagai simbol dimulainya pemanfaatan teknologi desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air minum warga binaan dan petugas di Nusakambangan.
Instalasi yang kini beroperasi tersebut memanfaatkan air laut sebagai bahan baku utama. Melalui teknologi reverse osmosis (RO), air laut diolah menjadi air layak konsumsi yang dapat langsung diminum.
Kapasitas produksinya mencapai dua puluh ribu liter per hari, jauh melampaui kebutuhan konsumsi harian warga binaan dan petugas yang saat ini berkisar 29.700 liter per minggu. Yang menarik, sistem tersebut tidak bergantung sepenuhnya pada listrik konvensional. Instalasi desalinasi memanfaatkan panel surya (solar panel) sebagai sumber energi utama sehingga operasionalnya lebih efisien dan berkelanjutan.
Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., mengatakan pemanfaatan energi surya menjadi salah satu keunggulan teknologi yang dikembangkan UNDIP. Menurutnya, integrasi teknologi desalinasi dengan energi terbarukan memungkinkan penyediaan air minum berlangsung lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.
Saat meninjau instalasi desalinasi bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto serta Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, Suharnomo menyampaikan bahwa pemanfaatan panel surya menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan teknologi yang tidak hanya menjawab kebutuhan air minum, tetapi juga mendukung prinsip keberlanjutan.



