Cerita Siswa Brebes, Bisa Masuk SMK Swasta Gratis Berkat Program Gubernur Ahmad Luthfi

TIMLO.ID – Mimpi melanjutkan sekolah sempat terasa mustahil bagi Valentina, siswi asal Desa Grinting, Brebes. Anak petani itu bahkan pernah berpikir berhenti sekolah setelah lulus SMP, karena kondisi ekonomi keluarga yang sulit.

Namun, hidupnya berubah setelah diterima Program Sekolah Kemitraan yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi-Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Kini Valentina bisa bersekolah gratis di SMK Mitra Karya Mandiri, Ketanggungan, Brebes.

“Perasaan saya senang banget karena bisa lanjut sekolah lagi. Dulu saya kirain nggak bakal bisa sekolah, karena ekonomi keluarga kurang mampu,” kata Valentina ditemui di sekolahnya.

Siswi kelas 10 jurusan Analis Kesehatan itu mengungkapkan sempat menangis saat mendengar pidato Ahmad Luthfi, ketika berkunjung ke sekolahnya beberapa waktu lalu. Dia teringat perjuangan orang tuanya, yang selama ini bekerja keras demi pendidikan anak.

“Pas Pak Gubernur cerita tentang orang tua, saya jadi keingat orang tua saya juga,” tuturnya.

Melalui program tersebut, Valentina mendapat pendidikan gratis selama tiga tahun di sekolah swasta. Tak hanya gratis biaya SPP, ia juga mendapat seragam, sepatu, perlengkapan sekolah hingga biaya PKL dan kunjungan industri secara gratis.

“Semuanya gratis. Dan kami tidak dibedakan sama siswa lain,” katanya.

Cerita serupa dialami Bunga Mawar, siswi jurusan Asisten Keperawatan. Anak petani itu mengaku hampir memutuskan berhenti sekolah, dengan alasan tidak ingin membebani orang tuanya.

“Saya sempat bilang ke orang tua mau berhenti sekolah aja, karena keadaan ekonomi tidak memungkinkan,” ujarnya.

Bunga bahkan sudah berniat ikut bekerja bersama kakaknya. Namun semuanya berubah ketika dia mendapat kabar diterima di Program Sekolah Kemitraan Gratis.

“Saya senang banget waktu ditelepon dapat sekolah gratis. Kalau tidak ada program ini, mungkin saya tidak lanjut sekolah,” katanya.

Sementara, siswa penerima manfaat lainnya, Diah Alifah Setia, juga mengaku bersyukur dapat melanjutkan sekolah berkat bantuan program tersebut. Siswi kelas 10 jurusan Asisten Keperawatan itu mengatakan, dirinya kemungkinan besar tidak bisa sekolah jika tidak mendapat bantuan.

“Kalau tidak ada bantuan ini, mungkin saya tidak bisa lanjut sekolah,” kata Diah.

Diah yang tinggal bersama ayahnya mengatakan, keluarganya memiliki keterbatasan ekonomi. Karena itu, saat mendapat kabar diterima program sekolah gratis, ia merasa sangat senang dan bangga.

“Senang karena bisa meringankan ekonomi orang tua,” ujarnya.

Diah juga mendapat fasilitas pendidikan gratis, seperti seragam, sepatu, dan LKS, tanpa biaya tambahan apa pun.

“Semuanya gratis, tidak ada pemungutan biaya sama sekali,” katanya.

Kepala SMK Mitra Karya Mandiri Brebes, Siti Lestari mengatakan, program tersebut sangat membantu masyarakat di wilayah pinggiran, yang sebagian besar berasal dari keluarga menengah ke bawah.

“Masih banyak siswa miskin yang membutuhkan biaya pendidikan. Dengan adanya program Sekolah Kemitraan ini sangat membantu anak-anak, di sini ada anak yatim piatu sampai miskin ekstrem yang membutuhkan biaya pendidikan. Program ini benar-benar membantu,” katanya.

Menurut Siti, seluruh kebutuhan pendidikan siswa penerima manfaat ditanggung sekolah, melalui program kemitraan tersebut.

“Mulai daftar ulang, seragam, SPP, sampai PKL dan kunjungan industri, semuanya gratis,” jelasnya.

Ditambahkan, saat ini kuota penerima manfaat di sekolahnya mencapai 36 siswa. Dia berharap, Program Sekolah Kemitraan dari Ahmad Luthfi terus berlanjut, agar semakin banyak siswa miskin bisa sekolah di SMK swasta tanpa biaya.

“Harapan program kami ini terus berjalan dan kuotanya ditambah supaya makin banyak anak bisa sekolah,” ujar Siti.

Rasa syukur juga diungkapkan Abdurohim, ayah Valentina yang bekerja sebagai petani penggarap lahan sewa. Dia menuturkan, tak mungkin mampu membiayai sekolah anaknya tanpa program tersebut.

“Kalau tidak ada program sekolah gratis ini, saya tidak mampu menyekolahkan anak saya,” kata Rohim, di rumahnya yang waktu tempuh dari SMK Mitra Karya Mandiri sekitar 20 menit.

Kini, di tengah kondisi rumahnya yang sedang direnovasi akibat nyaris roboh, Abdurohim hanya ingin anaknya bisa lulus sekolah, dan memiliki masa depan lebih baik.

Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah bekerja sama dengan satuan pendidikan swasta, melalui Program Sekolah Kemitraan secara gratis, dengan 139 sekolah tingkat SMA dan SMK. Program itu untuk calon murid, yang berasal dari keluarga kurang mampu kategori Desil 1 sampai dengan Desil 4 pada DTSEN. Total daya tampung sebanyak 5.004 kursi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *